Feel Content


con·tent:
in a state of peaceful happiness

Menurut saya "feeling content" adalah tipe kebahagiaan yang nggak bisa dibeli. Nonton konser impian, shopping spree, liburan; semuanya nggak pernah terasa se-membahagiakan ini. Jujur butuh waktu lama bagi saya untuk memahami the joy of contentment. Pertama kali saya menyadari perasaan ini adalah saat saya bangun tidur di suatu akhir pekan, di mana Bapak muter playlist kesukaannya yang terdengar di seluruh penjuru rumah; Ibu bikin sarapan; Adik main game console di kamarnya. Sewaktu saya keluar kamar, Bapak akan menyapa dengan topi koboi yang biasa digunakan sehabis menyiram tanaman atau ngasih makan Goro, Ayam Ketawa peliharaan keluarga kami. Lalu saya akan disuruh minum air putih, buang air kecil, dan main piano, sambil menunggu Ibu selesai bikin sarapan.

Skenario lain adalah saat kita semua harus mandi, dan bersiap-siap untuk pergi. Biasanya kami sekeluarga akan makan siang di rumah makan Jawa, pergi ke rumah Eyang, atau nyekar ke kuburan Oma. Di mobil kita akan menikmati perjalanan dengan playlist 80an, serta lame jokes yang dilontarkan Bapak (me being lame? I got it from my Bapak :p) Tanpa saya sadari, momen seperti inilah yang bikin saya mikir: "Kok rasanya bahagia banget ya? Padahal nggak ada kejadian spesial. Tapi rasa senangnya beda, kayak bersyukuuuur sekali atas semuanya." Kalau dipikir-pikir lagi, memang sangat jarang bagi keluarga kami untuk bisa berkumpul full team di akhir pekan. Berhubung adik saya kuliah di Bandung, dulu saya kerja di Jakarta, dan orang tua biasanya ada event di akhir pekan.

Feeling content juga dirasakan saat saya menghabiskan waktu dengan para sahabat. No fancy hangout, it's just us spending our quality time together. Sahabat saya nggak banyak, because I tend to keep my circle small. Tapi hubungannya deep dan berkualitas. Kayaknya sehari nggak cukup dihabiskan bersama. Topik obrolan nggak pernah habis, dan selalu ada inside jokes here and there. Keberadaan para sahabat ini sangat bermakna saat hidup merantau, and I'm very grateful for them. 
Tapi, siapa bilang contentment hanya bisa dirasakan karena orang lain? Embracing solitude juga bisa bikin kita merasa content. Sehari-hari kita ketemu banyak orang dan bersosialisasi, sampai kita lupa meluangkan waktu untuk diri sendiri. Bagi saya, me time itu sesederhana nyetir sendirian sambil denger lagu kesukaan, dandan di kamar, touch up di toilet umum, atau baca buku pas pesawat kena delay.

Semakin saya dewasa, semakin saya sadar kalau nggak semua masalah di dunia ini harus dirasa-rasa, Merasa sedih, bete, marah ya sah-sah aja, kan manusiawi. Tapi jangan lama-lama. Kalau kita lebih peka dan bersyukur, sesungguhnya kita sudah memiliki kebahagiaan yang kita cari.

CONVERSATION

0 comments:

Back
to top