Instagram Detox

"I would wake up in the morning and I would look at it first thing. I would go to bed and it was the last thing that I would look at. I felt a little too dependent on it, so I kinda wanted to take a minute. It's a detox. I'll be back."

- Kendall Jenner on her interview with W Magazine -

Tidak bisa dipungkiri, Instagram adalah media sosial yang paling bisa bikin pengguna merasa overly attached. Kalau boleh jujur, saya bisa 15-20 menit sekali ngecek Instagram. Padahal isinya ya gitu-gitu aja. Tapi memang satisfying sih ngeliatin story orang sampai habis. Saya bisa jamin, mayoritas dari teman-teman juga mengalami hal yang sama. 

Setelah semakin banyak fitur baru di Instagram, saya menjadi semakin ketergantungan. Kalau nggak sering-sering ngecek, wah bisa resah dan FOMO (fear of missing out) berat deh. Saat kebangun tengah malem, bukannya salat tahajud atau lanjut tidur, saya malah buka Instagram. Saat tau besok harus bangun pagi, saya malah memberi toleransi untuk menunda waktu tidur demi scrolling Instagram selama 10 menit yang berujung jadi 1 jam. Kualitas tidur saya jadi menurun. Lama kelamaan, saya pikir nggak bener juga nih; I'm not gonna let Instagram control my life. I need to take a break from Instagram. 

Saya cemas banget kalau ketinggalan informasi tentang makeupskincare, musik, makanan, tontonan, dan buku baru dari influencer di Instagram. Setiap kali menemukan sesuatu yang baru, lucu, dan bagus; saya selalu nggak tahan untuk share ke Instagram story. Menurut saya, semua orang harus tahu hal-hal yang bikin saya excited, as if the world revolves around me. Apalagi kalau ternyata banyak yang reply, berarti engagement terhadap netizen bisa dibilang berhasil. Akan tetapi, dari segala keriaannya, saya memutuskan untuk rehat sejenak dari Instagram. Beberapa malam yang lalu, saya menghapus aplikasi Instagram di smartphone. Nggak tahu ini sebatas sugesti apa gimana, tapi tidur saya jadi lebih nyenyak Buktinya saya sampai bangun kesiangan, jam 06.30! Kita lihat yasampai kapan saya bisa bertahan untuk nggak buka Instagram. 

Sebagai overly attached user, jelas kita nggak bisa menyalahkan Instagram sepenuhnya. Malah Instagram bisa dibilang sukses berat karena bisa bikin aplikasi "time sucker" seperti ini. Justru kita harus pinter-pinter mengontrol diri untuk menyeimbangkan antara Instagram dan real life. Saya pernah baca artikel di website HULT International Business School, yang mengatakan bahwa sesungguhnya "habits die hard." Yang namanya kebiasaan jelas susah ditinggalkan. Kebiasaan ada yang baik, ada yang buruk. Sikat gigi sebelum tidur dan pergi ke gym sepulang kantor tentunya merupakan contoh kebiasaan yang baik. Tapi manusia tidak luput dari kebiasaan buruk seperti merokok dan makan junk food. Nah, kebiasaan baik dan buruk ini sama-sama penting keberadaanya dalam proses pengambilan keputusan dan pengontrolan diri.. 

Ketika kita melakukan sesuatu yang kita sukai dan berhasil meraih sebuah pencapaian, sistem penghargaan di otak kita menghasilkan hormon yang disebut dopamine (hormon kebahagiaan), yang membuat kita merasa senang, sehingga kita cenderung mengulangi perilaku yang memberi kita kesenangan tersebut. Lambat laun, perilaku yang dilakukan berulang kali ini berubah menjadi kebiasaan; tertanam alam otak, sehingga membuatnya sulit untuk dilepas. 

Berhubung sudah menjadi kebiasaan untuk frequently checking the Instagram app, keputusan saya untuk menghapus aplikasi Instagram bukanlah keputusan yang impulsif. Pada awalnya, saya pelan-pelan mencoba mengurangi frekuensi waktu membuka Instagram. Dari 20 menit sekali, jadi 1-2 jam sekali. Setelah merasa mampu, baru saya hapus aplikasinya. Setelah dijalani, ternyata memang biasa saja. Hidup saya nggak langsung jadi lebih buruk atau lebih baik. Paling rada kagok di awal, karena saat buka folder aplikasi media sosial, nggak ada lagi pilihan aplikasi Instagram.

Final thoughts on 5-day Instagram detox:
1.Living without Instagram is not a big deal.
2. I have so much time on my hands since I dont have to spend a lot of time deciding what I want to share; seeing what my friends are up to.
3. Getting less FOMO than ever,
4. No more unnecessary interruptions. I used to pause and capture my phone-screen to document every song I listened to, every inspiring word I read, every hilarious conversation I had with my bestfriend. Repot juga ya kak, segala hal harus di-screenshot?
5. The less I know the better. 

Kalau ada yang nanya, kira-kira saya bisa hidup nggak tanpa Instagram? jawabnya ya bisa. Tapi sejauh ini, saya belum menemukan platform se-compact dan sepraktis Instagram yang bisa mengakomodir semua hobi umat manusia. Jadi, saya pasti akan tetap kembali menggunakan Instagram, tetapi saya akan membatasi frekuensi penggunaannya menjadi lebih wajar. Mohon maap, kalau bukan di Instagram story, gimana dong cara saya mengeluarkan inner Reza Chandika dalam diri ini?

CONVERSATION

0 comments:

Back
to top