The Art of Decluttering

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan Instagram post dari beauty influencer @liahyoo. Di caption-nya, Liah Yoo membahas tentang decluttering relationships. Seiring dengan bertambahnya usia, saya bisa relate banget dengan apa yang dibahas. Kalau teman-teman tahu sama @mariekondo, pasti sudah nggak asing lagi dengan gaya hidup orang Jepang yang apa-apa serba decluttering. Intinya, kita mengurangi barang-barang yang nggak diperlukan lagi. Mulai dari perabotan rumah tangga, baju, sepatu, makeup, hingga skincare. Saya pribadi beranggapan bahwa decluttering adalah aktivitas yang therapeutic. Bahkan kalau nggak bisa tidur, saya akan beresin lemari pakaian, mengatur susunan kerudung supaya color coordinated, atau sekadar menyusun makeup stash agar lebih rapi. Setelah itu, saya menjadi lebih tenang dan tidur jadi lebih nyenyak.

Setelah baca caption di postingan Instagram @liahyoo, saya setuju banget bahwa decluttering doesn't only apply to stuff. It applies to the people in our surroundings as well. Semakin kita dewasa, naturally kita akan menyaring inner circle kita. We choose people we spend most of our time with, we avoid those who bring negativity, we keep the ones who bring us joy. Males banget kan menghabiskan waktu sama orang-orang yang nggak satu frekuensi sama kita, yang apa-apa bawaannya rungsing dan pundung (Can I be less Sunda tho?), yang not being supportive at all when we share our plans and dreams, yang nggak punya sense of humor. Pas abis ketemu, bukannya feel refreshed, tapi malah bikin stres. Dulu pas SMP - Kuliah, kita mungkin gencar banget berteman sana-sini, siapapun ditemenin biar gaul. Pada masanya, itu nggak salah sama sekali. Dulu, saya mau-mau aja pergi sama circle A, B, C. Now I'm becoming more selective. Semakin kita dewasa, kita nggak bisa sembarangan bergaul. Your surroundings shape who you are.

Sekarang saya sangat bersyukur atas apa yang sudah saya punya. Content banget rasanya kalau lagi hangout sama orang-orang yang satu frekuensi. Rasanya nggak mau pisah. Beda banget kalau kita maksa berada di satu circle, pasti rasanya pengen cepat pulang.  Tapi, kalau ada teman yang udah bertahun-tahun nggak ketemu, ada acara reuni, ada acara buka puasa bersama, kita harus tetap datang loh ya! Kan silahturahmi memanjangkan umur! Dan bukan berarti kita menutup diri dari pergaulan baru juga ya. Akan ada masa di mana kita masuk ke kampus atau kantor baru, di mana kita harus cari temen in order to survive!  Tinggal pilih aja kira-kira cocoknya main sama siapa. Malah saya dapat temen-temen yang baik banget dari kantor lama. I choose to keep them in my life because they spark joy!  Sekarang saya lagi cari temen-temen baru nih di kantor baru! Doain ya!! I know it's gonna take some time, soalnya anaknya cenderung pendiem di lingkungan baru. Tunggu diajak ngomong dulu baru nyaut. Santun dan jaim banget deh.. sifat aslinya susah keluar :p

Jadi intinya, we have to be selective on choosing the people we spend most of our time with. Kalau selama ini teman-teman merasa terjebak di circle yang salah; yang bikin kalian nggak nyaman, just get away from it. Quoting Liah Yoo: "I don't think being selective about your time and energy on who you decide to spend time with is a selfish thing at all. You have the full authority to choose to create the right environment you want because we are a subject of the surroundings and they will directly or indirectly influence you." 

Goodluck on your decluttering process!

CONVERSATION

0 comments:

Back
to top